Dini.id Bantu Orangtua Tangani Anak dengan Speech Delay

Speech delay merupakan sebuah istilah kesehatan di mana anak mengalami keterlambatan dalam berbicara. Bukan istilah yang terdengar asing lagi, karena jumlah anak yang mengalami speech delay memang sudah banyak. Lantaran penting, para orangtua sebaiknya wajib mengetahui standar perkembangan anak yang baik.

Menyebutkan kata seperti ‘mama’ dan ‘papa’ saja haruslah sudah bisa dilakukan sang anak bahkan sebelum menginjak 12 bulan. “Tolak ukur perkembangan bicara dan bahasa itu sebagai tolak ukur perkembangan kognitif mereka, intelektual mereka. Jadi menentukan perkembangan pada tahap selanjutnya,” tutur dr Anggia Hapsari, SpKJ (K), Psikiater Konsultan Anak dan Remaja di Jakarta belum lama ini. Menurut dr. Anggia, keterlambatan bicara yang dialami anak membuat mereka juga tidak nyaman.

Semua emosi seperti sedih, marah, dan kecewa, semuanya pasti dialami anak. Namun, speech delay menghambatnya. Selain itu, menurut dr. Anggia, ekspektasi yang terlalu tinggi pada anak juga merupakan satu di antara faktor penyebab speech delay . Misal, budaya multikultural yang menuntut anak juga bisa berkomunikasi dalam banyak bahasa.

“Contohnya, ada anak baru umur 3 tahun udah pakai 3 bahasa: Indonesia, Mandarin, Inggris. Anak yang nggak ada gangguan itu nggak masalah, tapi anak dengan gangguan itu kacau balau,” jelasnya. Karena itu, tutur dr Anggia, mendampingi anak agar bisa mengejar ketertinggalannya wajib melibatkan orang tua. Komunikasi setiap hari dengan frekuensi yang sering haruslah menjadi kebiasaan yang diterapkan orang tua dengan anak. “Dengan melatih anak untuk bisa mengucapkan kata kata konsonan, misalnya, dilatih dengan flash card seperti itu,” katanya.

Selain itu, tambah dr Anggia, perlu digarisbawahi bahwa saat anak ingin bermain, tidak hanya diberikan mainan. Bergabunglah dengan anak, agar stimulasi bisa diberikan sehingga anak bisa berkomunikasi dua arah, mengenal emosi, dan juga menambah kosakatanya. Sebegitu bahayanya speech delay bila dibiarkan begitu saja namun masyarakat masih saja menganggapnya hal biasa. Hal ini pun menjadi diungkapkan oleh dr. Anggia.

“Mereka (orangtua) beranggapan bahwa, ' oh nanti anak muncul bicaranya belakangan, nanti dia geraknya dulu, loncatnya dulu. Ini mah hal biasa kok '. Tapi ternyata sebagai dokter, tolak ukur perkembangan bicara dan berbahasa itu adalah sebagai tolak ukur perkembangan kognitif anak yang nantinya akan berpengaruh juga pada tahap tahap perkembangan selanjutnya,” jelas dr. Anggia. Masih menurut dr. Anggia, intervensi sejak dini amatlah penting agar anak bisa mengejar ketertinggalannya. Stimulasi yang tepat akan membantu speech delay perlahan lahan menghilang. Sementara itu, Dr. dr. Dwidjo Saputro SpKJ (K) dari Dini.id menuturkan, ada banyak hal yang harus diluruskan di masyarakat kita tentang speech delay.

Dalam satu kesempatan dia menjelaskan, speech delay bukanlah penyakit atau pun gangguan. “Pertama yang harus dipahami oleh masyarakat adalah bahwa bukanlah istilah untuk gangguan atau lebih spesifik penyakit. Speech delay itu semua kondisi dimana anak itu lambat bicara. Ada kondisi seharusnya sudah bicara, tapi belum,” jelasnya. Kemudian, tutur dr. Dwidjo, bagi anak yang sudah mampu berbicara pun masih ada tahapannya.

Setiap tahapan atau rentang umur tertentu pasti sudah terlihat cara komunikasi atau bahasa serta jumlah kosakata dari anak. Bila hal itu tidak berjalan sebagaimana mestinya, jelas dr. Dwidjo, berarti anak mengalami speech delay. Berbicara merupakan salah satu skill yang harus dimiliki setiap anak. dr. Dwidjo saat ditemui di satu kesempatan pun menuturkan bahwa bicara adalah media agar anak bisa belajar. “Prinsipnya, anak gagal belajar itu gagal kehidupan. Saya selalu ingat, jika membiarkan anak lambat bicara sama saja membiarkan anak itu gagal kehidupan, “ tuturnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa komunikasi penting di kehidupan ini. Semua hal saling terkait, dimana belajar harus menangkap bahasa, menangkap maknanya, mengingat, dan itulah asal usul dari kemampuan bicara dan berbahasa secara umum. Saat anak sudah menunjukan ciri seperti tak bisa mengucapkan kata kata sederhana seperti anak lainnya, dr. Anggia merekomendasikan agar orang tua mendeteksinya sedari dini agar bisa dilakukan stimulasi yang tepat. "Deteksi yang lebih dini dapat membantu perkembangan anak untuk mengejar ketertinggalan dalam hal kemampuan berbicara. Jika sudah mendapat deteksi dini, maka segera mungkin lakukan stimulasi yang berkelanjutan agar bisa mengejar tahap perkembangan yang selanjutnya," jelas dr. Anggia.

Dr. Anggia pun turut menjelaskan pentingnya meningkatkan kesadaran orang tua akan peranan mereka yang sangat penting untuk perkembangan sang buah hati. Bagi para orang tua yang membutuhkan informasi lebih lanjut tentang , Anda dapat mencoba beberapa solusi. Dr. Anggia pun mengingatkan kesadaran dan peran penting orang tua amatlah berpengaruh dalam perkembangan si kecil. Berbagai solusi yang disesuaikan dengan tahapan atau rentang usia anak kini bisa diakses di dini.id.

Dini.id startup yang siap membantu orang tua tangani speech delay anak. Semua program stimulasi dan intervensi untuk perkembangan anak merupakan perpaduan terbaik dari teknologi, ilmu psikologi, tim ahli, dan yang terpenting, orangtua. Berikut ini beberapa program yang ada di Dini.id: 1. Sistem assessment gratis, tanpa biaya apa pun di website Dini.id. Sistem ini dapat menidentifikasi tidak hanya keterlambatan namun juga potensi perkembangan anak.

2. Kelas stimulasi dan intervensi, kelas yang merupakan kegiatan bermain ini dilakukan di playground playground yang bekerja sama dengan Dini.id. Semua fasilitasnya telah dirancang khusus untuk mengaktifkan neuron dalam otak yang akan meningkatkan kognitif serta, tentunya menjadi dasar perkembangan tahap selanjutnya terutama untuk belajar. 3.Program assesment, observasi & investigasi berkala. Program ini disupervisi langsung oleh psikiater dan psikolog klinis guna mengoptimalkan perkembangan anak yang berbeda beda dan unik. Dengan stimulai dan intervensi yang tepat, speech delay akan pun lambat laun diharapkan akan menghilang.

Leave a Comment